Saturday, December 14, 2013

Perjalanan menggapai atap Pulau Jawa, Puncak Mahameru | Bagian 1

Gunung Semeru
Mahameru, Begitu orang menyebut tanah tertinggi di pulau Jawa tersebut. Tanah suci puncak para dewa ini terus mengundang banyak petualang dari penjuru nusantara maupun dari mancanegara untuk mencumbui puncaknya. Saya akan membawa anda seakan-akan ikut mendaki bersama pada postingan ini. Enjoy!

PERJALANAN MENGGAPAI ATAP PULAU JAWA, PUNCAK MAHAMERU.


Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Gunung Semeru adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru di ketinggian 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Posisi gunung ini terletak di antara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, Jawa Timur.

Pertama-tama perkenalkan Tim yang kami beri nama Badranaya Adventure. Saya Dhani, Julian dan Devies berasal dari Cikarang, Erwin dan Egi dari Cikampek, Sandy dari Tangerang dan Bang Dedy Zaru dari Depok.  Badranaya Adventure sendiri baru terbentuk pada tanggal 1 November 2013. Dan perjalanan ke Puncak Mahameru ini merupakan Ekspedisi perdana bagi Tim Kami.

Bersama-sama kami merencanakan perjalanan ini yang merupakan angan-angan kami sejak lama untuk berada di puncak tertinggi Pulau Jawa, Puncak Mahameru.

Merencanakan perjalanan ke Gunung Semeru tidaklah mudah, banyak hambatan dan masalah melanda kami, termasuk mengumpulkan teman untuk membentuk tim, penentuan hari pendakian, pengajuan cuti, hingga pantauan situasi dan kondisi mengenai Gunung Semeru. Ini yang tak kalah penting, komunikasi serta koordinasi dengan pihak TNBTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru) karena jikapun semua persiapan telah 100% namun pintu pendakian ditutup untuk umum maka selesailah rencana Ekspedisi ini. Setidaknya, membutuhkan waktu sekitar 2 bulan persiapan meliputi perizinan, persiapan fisik, mental, materi, logistik.

Dua minggu sebelum hari keberangkatan, Pintu pendakian Semeru ditutup untuk umum menyusul 2 pendaki dari Jakarta yang hilang di Gunung Semeru. Berita ini membuat Kami khawatir mengingat persiapan yang telah mencapai 90% (hanya tiket Kereta Api saja yang belum kami beli). Hari demi hari kami pantau terus perkembangannya hingga pada akhirnya pihak SAR dari TNBTS berhasil menemukan 2 pendaki yang hilang tersebut. Berita itu membuat kami lega, menyusul kabar baik tersebut, tidak lebih dari 1 minggu Semeru kembali dibuka untuk pendakian umum.

Tidak berselang lama, Kami mendapati berita yang kembali mengkhawatirkan. Berita yang mengabarkan tentang lahar dingin Gunung Semeru yang turun hingga Kabupaten Lumajang. Jujur saja berita itu sempat membuat saya down dan sempat mencari-cari gunung lain sebagai alternatif jika Gunung Semeru kembali ditutup untuk umum sembari memantau terus perkembangan Gunung Semeru. Beruntung, kurang dari seminggu sebelum keberangkatan tidak ada lagi penutupan Gunung semeru untuk pendakian umum.



HARI KEBERANGKATAN
Jumat, 22 November, 2013
Pukul 12:30 selepas Shalat Jum’at kami ber-7 berkumpul di Stasiun KA Pasar Senen Jakarta, semua anggota terlihat bersemangat, khususnya Saya yang sejak awal paling getol dan paling sibuk mempersiapkan perjalalan ini. Kami memulai perjalanan dari Jakarta ke Malang pada pukul 14:00 (Kereta dijadwalkan berangkat pukul 13:40) menggunakan kereta api Matarmaja AC Ekonomi dengan tarif yang cukup murah Rp 65.000. Perjuangan sudah dimulai, dibutuhkan hampir 20 jam perjalanan ke Malang, mendengarnya saja sudah pegal.


Meeting point di Stasiun Pasar Senen, Jakarta
 
Julian, Bang Dedy dan Dhani di Kereta Matarmaja
 
Sandy feat Dhani di Kereta

DARI SINI SEMUA DIMULAI DENGAN MELANGKAH
Sabtu, 23 November, 2013
19 jam perjalanan berlalu, hari berikutnya pukul 8:30 kami tiba di Stasiun Kereta Api Malang Kota Baru, Jawa Timur. Kemudian kami menyewa sebuah Angkutan Umum untuk melanjutkan perjalanan ke sebuah Kota kecil bernama Tumpang. Setelah negosiasi cukup alot dengan Pak Supri (Sopir angkot) akhirnya disepakati membayar 100 ribu untuk 1x perjalanan ke Tumpang. Lumayan murah untuk rombongan beranggotakan 7 orang.
 
Kiri ke Kanan: Dedy Zaru, Julian, Sandy, Dhani, Egi, Erwin, Devies

Kiri ke Kanan: Dedy, Sandy, Julian, Dhani, Egi & Erwin Tiba di Kota Malang
Tiba di Tumpang pukul 9:30, kami diantarnya ke Rumah Pak Roes untuk menyewa truk. Setibanya disana, Kami bertemu rombongan dari Jakarta yang beranggotakan 3 orang bernama Bang Seca, Bang Dado dan Bang Hamka. Hanya Bang Hamka saja yang belum pengalaman ke Semeru. Rupanya mereka telah berada di Tumpang sejak kemarin siang. Karena keterlambatan kereta, mereka memutuskan untuk menginap semalam di Rumah Pak Roes. Setelah ngobrol-ngobrol maka sepakatlah kita untuk bergabung dalam 1 tim pendakian. Good News!

Kami tinggal beberapa saat disana sambil menunggu tim untuk bersiap-siap. Setelah itu, pada pukul 10:00 kami melanjutkan perjalanan menggunakan Truk sewaan ke Ranupani, desa terakhir di lembah Semeru dengan 2.200 meter di atas permukaan laut. Semula kami berencana menyewa Jeep, hanya saja kebetulan di tempat Pak Roes sedang penuh disewa.
Tim siap berangkat menuju Ranupani
Setelah 1,5 jam perjalanan yang luar biasa dengan pemandangan pegunungan dan air terjun yang spektakuler, kami tiba di Jemplang, batas akhir kendaraan mobil boleh melintas karena setelah itu sedang ada perbaikan jalan menuju Ranupani. Dari Jemplang terbagi 2 jalur, ke kanan adalah menuju Ranupani, sementara jalur ke kiri menuju wisata gunung Bromo melalui Padang savana Tengger. Sepanjang perjalanan tadi, tak jarang kami menemukan beberapa jenis Monyet liar.

Dari Jemplang perjalanan dilanjutkan menggunakan Ojeg yang tak kalah menarik dan mendebarkan, mengingat jalur nanjak berkelok dan berbatasan langsung dengan jurang yang curam, juga cara mereka mengendarai motor dengan kecepatan penuh-lah yang sebetulnya membuat perjalanan lebih menegangkan.

Setibanya di Pos Ranupani, kami melapor ke petugas disana, menyerahkan persyaratan dan mengisi form pendaftaran dan surat izin untuk mendaki. Setelah makan siang, kami segera mulai mendaki pada pukul 12:30. ‘Dari sini, semua dimulai dengan melangkah.’
Pos Ranupani
 
Devies di Pos Ranupani

Gerbang Pendakian Gunung Semeru
Dari Ranupani ke Puncak Mahameru, Kita harus melewati 3 Shelter. Yang pertama adalah Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo adalah sebuah danau besar yang terletak di ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut dengan luas 14 Ha. Ini adalah danau pegunungan dengan air tawar di mana kita bisa melihat matahari terbit di pagi hari antara dua bukit di timur .

Jalur awal yang kita lalui cukup landai, lereng bawah bukit didominasi oleh tanaman alang dan pinus. Tidak ada tanda penunjuk arah, namun terdapat tanda-tanda pada setiap jarak 100 meter. Di sepanjang perjalanan, seringkali kita temui batang pohon besar yang tumbang menyilang di jalur pendakian dan cabang-cabang pohon di atas kepala, jadi kita harus sering menundukkan badan dan menekuk kepala, tingginya tas carrier sangat membuat tidak nyaman.

Setelah berjalan sekitar 5 km menyusuri lereng bukit ditumbuhi Edelweiss, kita  sampai di Watu Rejeng. Disana Kita bisa melihat batu terjal yang sangat indah. Kami melihat pemandangan indah di lembah dan bukit-bukit yang ditutupi dengan hutan cemara dan pinus. Kadang-kadang kita bisa melihat kepulan asap dari puncak Semeru. 
Pos peristirahatan menuju Ranu Kumbolo

ICI Adventure

Erwin dan Sandy: Interisti dalam Tim Badranaya
Setelah 5 jam hiking, pada pukul 17:30 kami tiba di Ranu Kumbolo, sebuah pemandangan yang menakjubkan. Rasa lelah kami terbayar oleh panorama spektakuler Ranu Kumbolo yang tertutupi pekat oleh kabut, suhu disini sangat dingin. Walaupun masih pukul 18:00 disini sudah sangat gelap.
Kami membangun 3 tenda di kegelapan, memasak dan makan, kemudian setelah perut kenyang kami semua tidur. 
Berselimut kabut Ranu Kumbolo
HEY, TODAY IS MY BIRTHDAY
Minggu, 24 November, 2013
Pada 04:30 pagi, Saya terbangun karena tergoda untuk menyaksikan sunrise di Ranu Kumbolo. Setengah jam kemudian, teman-teman lainnya mulai bangun dan segera mempersiapkan peralatan untuk memasak. Setelah itu, kami memulai bagian yang kami sebut narsisme: mengambil banyak foto di sekitar danau. Pagi harinya, kami memancing ikan hanya untuk bersenang-senang (karena tidak ada ikan yang mau melahap mata kail pancingan kami).

Shubuh di Ranu Kumbolo

Mancing mania, Mantap !!!

Julian in action
 
Devies in action

Egi beraksi di depan Kamera 360

Pose Pose gak penting

Tim di Ranu Kumbolo

Team berlatarkan Tanjakan Cinta


Tim berlatarkan Tanjakan Cinta
Sekitar pukul 09:30 kami memulai perjalanan ke shelter berikutnya , Kalimati. Untuk mencapai Kalimati kita harus mendaki bukit curam yang cukup kesohor disebut Tanjakan Cinta. Mitos Tanjakan Cinta adalah bagi siapa saja yang berhasil melewati tanjakan curam hingga puncak tanpa berhenti dan tanpa melihat ke belakang sambil terus berpikir dan membayangkan orang yang dicintainya, maka semua impian-impian cintanya akan menjadi kenyataan. Boleh percaya, boleh tidak. 
Sandy membayangkan Nabilah JKT48 sebelum mendaki Tanjakan Cinta

Erwin saat akan mendaki Tanjakan Cinta


Dhani bersiap mendaki Tanjakan Cinta


Sandy tiba dahulu di Puncak Tanjakan Cinta *Faktor Nabila JKT48

Tim di Puncak Tanjakan Cinta
Tanjakan Cinta sangat sulit untuk dilalui, apalagi dengan beban 80 liter tas carrier di pundak. Beruntung bagi kami, setelah Tanjakan Cinta jalur menurun dan di depannya kami melihat padang rumput  luas yang sangat indah yang disebut Oro-Oro Ombo yang dipenuhi dengan tumbuhan Lavender & rumput-rumput tinggi setinggi 1,5 meter. Setelah melewati padang rumput ini, tibalah kita di Cemoro Kandang. Sampai di Cemoro Kandang, sudah tidak ada ladang Lavender, yang ada hanya pohon-pohon tinggi dan bukit-bukit. Itulah pemandangan yang akan kita lihat sepanjang perjalanan dari sini sampai Kalimati. Disana kita beristirahat beberapa menit dan melanjutkan perjalanan mendaki hutan pinus, terkadang disini kita bisa menemukan rusa dan banyak jenis burung.
Devies belatarkan Oro-oro Ombo

Julian berlatarkan Oro-oro Ombo
Pada akhir hutan pinus kita tiba di Jambangan, tempat dengan tanah datar, dipenuhi oleh rumput-rumput, edelweiss, dan pemandangan langsung ke Puncak Mahameru, Kita semakin dekat, dari sini Puncak Mahameru sudah dapat kita lihat dengan jelas. Setelah 30 menit berjalan melalui hutan akhirnya kami tiba di Kalimati (2.700 meter di atas permukaan laut) pada pukul 12:40, Shelter dengan  struktur tanah landai, padang rumput luas dan banyak ditumbuhi edelweiss di tepi hutan pinus. Disini angin bertiup kencang dan terasa menusuk-nusuk saking dinginnya. Kami mendirikan tenda di tempat yang cukup strategis yang terhalang angin untuk beristirahat sebagai persiapan sebelum summit attack pada tengah malam. Disana, kami mengambil air ke Sumber Mani, satu-satunya sumber mata air di Gunung Semeru, sekitar 1 jam perjalanan ke arah Barat. Saya, Erwin dan Bang Seca-lah yang ‘beruntung’ kebagian tugas ini, sementara yang lainnya sibuk mendirikan tenda. Kami harus pergi ke sana lebih awal, karena termasuk hewan buas disini seperti babi hutan dan macan kumbang juga sering dijumpai di Sumber Mani pada malam hari untuk mengambil air.
Erwin dan Dhani di Cemoro Kandang


Egi bergaya setibanya di Jambangan

Devies dan Bang Dado berfoto di Kalimati

Dhani mengambil Air di Sumber Mata Air Sumber Mani
 
Erwin mengambil Air di Sumber Mata Air Sumber Mani

Dhani berfoto bersama Edelweiss di Kalimati
 Setelah semua dilakukan, sekitar pukul 20:00 kami tidur lebih awal karena harus bangun pukul 22:30 untuk persiapan mendaki ke puncak Mahameru.


Bersambung ke Bagian 2
Untuk membaca selengkapnya klik: Perjalanan menggapai atap Pulau Jawa | Bagian 2

Friday, December 6, 2013

We bring Evonik to the roof of Java Island, Peak Mahameru

First of all, let me introduce our team in this Expedition. I am Kusdani (28), a Production Technician, accompanied by both of my friends: Devies (27), an Instrumentation & Electrical Technicians and Julian (26), a Filling Stuffing Personnel. Together we planned to bring Evonik to the roof of Java Island, Peak Mahameru. We are planning to give a real dedication to welcoming the first decade of PT. Evonik Indonesia on February 2014.

Mount Semeru is an active volcano located in Malang, East Java, Indonesia. It is the highest mountain in Java Island. Its peak is 3,676 meters above sea level.
Planning a trip to Mount Semeru was not easy, lot of obstacles and problems plagued us. We need three months of preparation include physical, mentally, material and logistic.

Friday, Nov 22, 2013
The three of us gathered at Evonik Cikarang Plant then went to Pasar Senen Train Station, Jakarta by Taxy. We started the trip from Jakarta to Malang by train at 1:40 pm. It takes almost 19 hours journey to Malang

We gathered at Evonik Office

Pasar Senen Train Station, Jakarta

Matarmaja Train
Saturday, Nov 23, 2013
Next day at 8:30 am we're arrived at Malang Kota Baru Train Station, Malang East Java. Then we chartered a Public Transportation to continued trip to a village called Tumpang. We arrived in Tumpang at 9:30 am, we had a nice Guy named Mr. Roes help us rent a Truck. We stayed a few minutes at his house while waiting for the team to get ready. After that, at 10 o'clock we continued the journey to Ranupani, the last village in the Semeru valley with 2,200 meters above sea level located in Region of Bromo-Tengger-Semeru National Park. 

At Malang Kota

Rent a truck from Mr. Roes
After 2 hours truck ride trip with a spectacular mountain and waterfall views, We arrive at Ranupani. We do register, filled and signed the permit letter to climb. After signing up at the Ranupani Resort, we immediately began to hike at 12:30 pm

Resort Ranupani

Resort Ranupani

Semeru Climbing's Gate
From Ranupani to Peak Mahameru, We have to passed 3 shelters. The first shelter is Ranu Kumbolo. Ranu Kumbolo is a big lake located at an altitude of 2,400 meters above sea level with an area 14 HA.
It is a mountainous lake with fresh water where we can see sunrise in the morning between two hills in the east.

Initial path that we've been through enough ramps slopes down a hill dominated by reed plants. There is no sign signpost street, but there are signs on every 100 meter distance measure, we follow this sign. Sometimes there are fallen trees and branches above the head, so we must often bend the head, high carrier-bag very uncomfortable.

After walking about 5 km down a hillside overgrown with Edelweiss, we will arrive at Watu Rejeng. We will see a very beautiful steep rock. We saw beautiful views across the valley and the hills are covered with fir and pine forests. Sometimes we can see the clouds of smoke from the top of Semeru.
It takes 5 hours trekking through 12.5 km tracks. In first 5 km to the shelter we find Edelweiss on the slope of the hill, stepping another km ahead we see a beautiful valleys and hills with fir and pine trees around.

After 5 hours of hiking, at 5:30 pm we arrived at Ranu Kumbolo, It was amazing view and very cold here. We built 3 tents, cooking and eating, and then we all fell asleep.
  
Team at Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo - Tanjakan Cinta
 
Again, Team at Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta as background

Ranu Kumbolo

Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta as background


Ranu Kumbolo
Sunday, Nov 24, 2013
At 4:30 am, I got up and boiled some water for heat because it was so cold. Half an hour later, the rest of the guys began to wake up. They won't missed the spectacular sunrise at Ranu Kumbolo and started the narcissism part: take a lot of pictures around the lake.

Ranu Kumbolo at the early morning

Photo session at Ranu Kumbolo

Photo session at Ranu Kumbolo

Photo session at Ranu Kumbolo
About 9:30 am we started our journey to the next shelter, Kalimati. To reach Kalimati we have to hike a famous steep hill called Tanjakan Cinta. The Myth of Tanjakan Cinta is for anyone who made it through the steep incline to the top of the climb without stopping and without looking back while continuing to think and imagine the person who loved, then all of their dreams in love will come true.
Tanjakan Cinta was very hard to passed, more over with the 80 liter load of carrier-bag in shoulder. Lucky for us, after it the track was all downhill and behind that we saw a very beautiful grassland called Oro-Oro Ombo full with Lavenders & high grass about 1.5 meters tall. After passed this grassland we hike to the pine forest called Cemoro Kandang, sometimes we find deer and birds.

Oro-oro Ombo

Oro-oro Ombo


Oro-oro Ombo
In the end of the pine forest we reach Jambangan, a place with flat land, grass, edelweiss, and a direct views to Peak Mahameru, We're getting closer. After 30 minutes walking through the forest finally we arrived at Kalimati (2,700 meters above sea level) at 12:40 pm, a shelter with large grassland and much planted the edelweiss in the edge of the pine forest. Kalimati was so windy and very cold. Here we built a tent for take a rest as preparation before summit attack at the midnight. We also take the water as supplies from the only one springs in Sumber Mani about 1 hour trekking to the West. We had to go there earlier before the wild animals did. If we did late, end of stories!
After all done, we slept earlier because we had to get up at 11 pm to climb to the top. 
 
Jambangan Check point

Kalimati Shelter


Prairie with Edelweiss
 
Sumber Mani, the only one springs in Mount Semeru
Right at midnight, we all started to did summit attack to reach Mahameru by passing the Arcopodo Shelter (2,900 meters above sea level). Arcopodo is a place 200 meters higher from Kalimati. The weather was extremely cold, very windy and dusty. Here we find many tombstones of the climbers who died or lost their missing. The track from Kalimati to Arcopodo is dominated by a solid ground with a slightly uphill track. After the Arcopodo shelter, the track changes to gritty or sandy, and it sharply inclines. The dust began when we left the Arcopodo shelter. One hour climbing through steep pine forest, we found Kelik, the last vegetation area before the dunes. From there, we have to use mask and goggle. Actually this is the shortest track, only 3 km to the top, but it is the most distressing portion. The sand was really loose, so even if we took a long step, the track started crumbling, forcing you to take a smaller step.
Started summit attack at 11 pm. We need 6.5 hours climbing through steep dunes and easily degenerates. Follow the existing tracks and be careful. Use a headlamp and watch the step while climbing the dunes.

One of the tombstone at Arcopodo

One of the tombstone at Arcopodo


Started to Climb

Started toClimb

Climb a 45 degress of elevation

Climb a 45 degress of elevation
Monday, Nov 25, 2013
Time shows at 5 am, the sunrise looks spectacular in the eastern horizon which lasted no more than 10 minutes, Lucky for us, we had time to witness this view and capture the scene. We are very happy and this is enough to treat our fatigue.
 
Sunrise in Mahameru
Finally after a really exhausting struggle against fatigue, the struggle against despair, against extreme weather, as well as the struggle against the limitations of self, at 05:30 am we succeed to reach the Peak Mahameru.
It was amazing feeling and difficult to express with words. The wind was blowing very strong. Its speed reaches 0-30 knots. Fast enough. The air thermometer reads 4 degrees Celsius. Strange feeling struck at the peak Mahameru. Eve is a cold, strong wind, and stunning natural beauty, made feel like in another world. It was a dream came true, standing at Peak Mahameru. As far as the eye can see, we are just around the expanse of the endless ocean of clouds. We were stand above the clouds!

Yes, We did it!

We bring Evonik to the Roof of Java Island, Peak Mahameru ! 
Team at the roof of Java Island, Peak Mahameru
At the roof of Java Island, Peak Mahameru

At the roof of Java Island, Peak Mahameru

At the roof of Java Island, Peak Mahameru


At the roof of Java Island, Peak Mahameru

Team at the roof of Java Island, Peak Mahameru
Here are very extreme weather with strong cold winds, the temperatures reached minus 4 degrees celcius. We felt so cold and like frozen, even I can't felt my fingers. Feelings of proud, emotion, happy and tired were mixed into once. But we can't linger to being there due to our physical condition and also the wind blow toxic gases will soon be heading to climbing lane.

There was a crater that was constantly erupting and ejecting volcanic dust every 15-45 minutes.
We were stay about one a half hours in the roof of Java Island to enjoy the magnificent view and took some photos. On 7 o'clock we go back to Kalimati Camp.

Walking down from the top to Kalimati shelter only took 2 hours. Compared with the time we spent walking up to the top which was 6 hours. That gritty track is far more helpful when going the route down.

In the way back to Kalimati, Our group was met with a lonely injured girl at the middle of climbing track. So we decide to split into two groups. The ones going first to go to Kalimati for dismantle the tents and prepare the food, and another group was guard and evacuates her to the Kalimati Camp.

I was arrived at Kalimati at 9:30 am and another group arrived one hour later. At 12 o'clock after we took some food & rest we continued our journey to Ranu Kumbolo. At first, around Kalimati was foggy. But after we entered a small forest, the fog disappeared and the sun was shining. In the middle of trekking at the end of pine forest the rain was fallen, so we took a break covered with large plastic. 30 minutes after it, the rain was stopped, and then we continued walking again and passed through a beautiful flower field at Oro-Oro Ombo prairie.

We took some pictures in here while mesmerized by its beauty. After that, we continued walking and arrived at Ranu Kumbolo shelter at 3:20 pm. We were so tired and started to take a break. After we built tents and take some food, the rain was fallen again, this time heavier. Feeling tired, we all fell asleep inside the tent.

Tuesday, Nov 26, 2013
5 o'clock in the morning I was already woke up. All the guys were still sleeping so I took that time to walk around the lake, take some pictures, and admire its beauty. After enjoying Ranu Kumbolo Lake briefly, I take some water, boiled the water for make a hot drink and cooking the food. Again, I saw the sunrise at Ranu Kumbolo, Amazing!

Before leaving Ranu Kumbolo
After eating, we packed and started the journey back to Ranupani around 7 am. Our return path through alternative pathways to traverse the mount Ayek-Ayek. This is to speeding the time because we have to immediately arrive at the train station following schedule of train to Jakarta on 4 pm.

The conditions of Ayek-Ayek track are very steep path and quite dangerous. At first slightly sloping path and a little dusty crossing forests dominated by plants such as mountain pine greenery. The next track began to climb down the steep ridge of a mount Ayek-Ayek. Along these lines can sometimes be found footprints and droppings of animals. Birds and creatures are often seen around this track.

Climbing Mount Ayek-Ayek

Way to Ranupani via Ayek-Ayek path
At 11 o'clock we've arrived at the Ranupani resort. We had to report to the National Park Officer at the climbing office that we arrived as a complete team, and that no one was left behind. We took a break and immediately continue the journey to Tumpang. At 12 o'clock we rode a truck back to Tumpang village. We cleaned up and packed everything.

Way to Tumpang with Mount Bromo Background
 At 2:15 pm we set off toward the Malang train station. We took the very slow economy train, going back to Jakarta, the very crowded capital of Indonesia. But, the memories were impressive, and I promised myself I will get there someday to enjoy the beauty of nature, again and again.
 

At Malang Kota Baru Train Station

Wednesday, Nov 27, 2013
The next day, after traveling up to 19 hours by train, we arrived in Jakarta at 11 am. After do a farewell with other friends, we returned to the Cikarang and return to own homes.

Writer,
Kusdani